Apa Itu "Shed's Blog" ?

Shed's Blog merupakan fanfiction Pokemon bersambung karya danielshedley.

Fanfiction ini menceritakan tentang petualangan Shed, seorang pelatih Pokemon muda yang memulai petualangannya di region Hoenn.
Ditemani dengan Pokemon-Pokemon-nya yang diberi nama panggilan yang unik-unik, Shed akan menjadi pelatih Pokemon terhebat!
(baca selengakapnya, Klik disini)



(fanfict ini buatan Dan dari website perjalananshed.blogspot.com..kalau kalian menemukan tulisan ini di tempat lain selain di web tersebut, berarti tulisan ini telah dibajak)
~danielshedley

©2009-2012 Shed's Blog Allright Reserved


Kamis, 03 Februari 2011

Entri #042 : Klasik

"Tate, Liza, kalian yakin alat itu yang mereka ambil?"
"Iya, aku yakin alat detektornya berada di situ, namun sekarang hilang" Tate menunjuk salah satu lemari besi yang sudah berlubang. Ruangan dimana kami berada sekarang adalah ruang penelitian di Pusat Antariksa. Ruangan ini biasa dipakai untuk meneliti sesuatu. Mereka sepertinya sedang meneliti mengenai keberadaan Pokemon di luar angkasa sana, bisa dilihat dari berkas-berkas yang berceceran dimana-mana.
"Mereka menghancurkan generator utama, sehingga semua listrik mati, maka dari itu CCTV tidak bisa berfungsi" Lanjut Tate.
"Pantas saja lampu dan komputer disini tidak ada yang mau menyala" Balas Sammon. Detektor yang dicuri adalah alat yang digunakan untuk melacak Pokemon dengan menggunakan patokan sebuah benda yang berhubungan dengan Pokemon tersebut. Entah apa yang mereka mau lacak.



"Bisakah kita segera pergi dari sini? Perasaanku tidak enak" Gumam Claire yang dari tadi duduk di sudut ruangan memperhatikan aku, Kakakku Sammon, Liza dan Tate mengobrak-abrik seisi ruangan ini, berharap ada petunjuk. Kami sengaja tidak meminta bantuan polisi karena jika hal ini bocorke publik, takut Divisi 2 akan melakukan hal nekat. Maka dari itu kami meminta Polisi untuk membuat barikade di luar gedung.
"Kalian tidak akan menemukan apa-apa.. Mereka tidak sebodoh itu sehingga meninggalkan jejak" Claire berusaha membujuk kami untuk berhenti.
"Tunggu, aku menemukan harta karun" Kataku menemukan sebuah kalung emas di balik buku-buku yang bertumpuk. Kakakku, Liza dan Tate segera menghampiriku. Aku menerawang kalung emas tersebut ke arah jendela. Kalung emas itu begitu mengkilap terkena sinar matahari, seperti baru saja dibeli atau dibuat. Aku yakin jika benda ini pasti jika dijual akan meraup keuntungan yang besar.
"Kenapa mereka meninggalkan kalung emas di sini?" Tanya Liza.
"Mungkin.. ini milik salah satu anggota mereka yang tak sengaja tertinggal" Balas ku.
Aku membolak-balikkan kalung emas tersebut dan mendapati sebuah ukiran bertuliskan nama yang sangat familiar.


Milo Jastence.

Aku membaca nama itu, dan langsung membangunkan Claire yang sudah hampir ketiduran. Claire bangkit dari kursi yang dia duduki dan berjalan menghampiriku.
"Sejak kapan Milo punya kalung bagus seperti itu?" Claire merebut kalung tersebut dengan paksa dariku.
Cliare berusaha mengidentifikasika kalung tersebut, berharap menemukan sesuatu di dalamnya.

"Bisa jadi dia tinggalkan dengan sengaja. Habis, memang kalian pernah melihat Milo menggunakan kalung? Lagipula itu bukankah kalung untuk perempuan?" Tiba-tiba saja kakakku berhipotesis.
"Sengaja? Benar juga. maksudnya ini adalah... umpan?" Claire mengangkat alisnya.
DUAR!!! Mendadak kalung tersebut meledak seperti petasan kecil! Sepertinya dugaan kakakku benar, ini sebuah umpan. Umpan yang sangat klasik.
Letupan tersebut disertai dengan serbuk-serbuk berwarna putih dan kuning yang berterbangan di udara.
Bruk bruk bruk. Tiba-tiba saja Claire, Tate, dan Liza ambruk. Disusul dengan badanku yang mulai lemas dan kaku. "Brengsek, sepertinya kalung itu adalah bom Sleep Powder dan Stun-" Gubrak. Kakakku terjatuh sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Aku berusaha untuk sadar, walau badanku sudah lemas dan tak bisa digerakan.
Bruk! Aku akhirnya terjatuh. Tak bisa bangun. Mataku terus berusaha untuk menutup tapi aku berusaha untuk bangun, seperti tidak terjadi sinkronisasi antara otak dan syaraf.
Pandanganku semakin buram, suara yang terdengar semakin meredup. Aku mulai tak bisa mengendalikan tubuhku, kelopak mata mulai menutup kedua bola mataku.
Awas kau Milo, batinku.
Akhirnya mataku tertutup sepenuhnya, suara menjadi sunyi senyap. Aku pun terlelap, dalam kekesalan.

Kembali ke Atas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"