"Hey pencuri, jangan kabur!!" Teriakku. Tak ada jawaban sama sekali.
"Baiklah, Mag keluarlah!" Aku memanggil Magneton-ku dari Pokeball-nya.
"Gunakan kemampuan magnet-mu untuk melacak kotak tersebut!"
Setahuku, kotak tersebut terbuat dari semacam logam, maka dengan kemampuan Magneton aku dapat melacak kotak tersebut seperti harta karun.
"Kau merasakan sesuatu?" Tanya-ku kepada Pokemon magnet tersebut. Dia menagngguk.
Sial, kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Apa yang dia mau dengan kotak tersebut? Apa isinya?
Terlebih lagi.. apa yang harus ku katakan pada kakakku? bisa-bisa aku di bunuh!
Bzzt.. Bzzt.. tiba tiba terdengar suara sengatan listrik, yang ternyata berasal dari Magneton. Magnet-Magnet ditubuhnya menunjuk ke selatan, sama seperti tujuanku, kota Pallet.
"Kerja bagus, kawan! Kotak tersebut dan si tim roket sial itu pasti sedang menuju kota Pallet! Ayo!"
~~~
Pencarianku membawaku sampai kota Pallet.
"Kau yakin disini?" Tanyaku pada Mag di depan plang bertuliskan 'Kota Pallet'. Dia mengangguk.
"Oke, jangan buat keributan disini, ini kota kecil" Bisikku pada Pokemon-ku.
Aku berjalan menelusuri perumahan, namun hampir tidak ada orang. Mungkin penduduk kota Pallet orang rumahan. "Dimana dia?", Gumamku.
Magnet pada Magneton menunjuk kepada sebuah bangunan tua. Semacam laboratorium.
Aku mencari pintu masuk kedalam bangunan tersebut dan aku terkejut saat mengetahui nama pemiliknya.
Apa Itu "Shed's Blog" ?
Shed's Blog merupakan fanfiction Pokemon bersambung karya danielshedley.
Fanfiction ini menceritakan tentang petualangan Shed, seorang pelatih Pokemon muda yang memulai petualangannya di region Hoenn.
Ditemani dengan Pokemon-Pokemon-nya yang diberi nama panggilan yang unik-unik, Shed akan menjadi pelatih Pokemon terhebat!
(baca selengakapnya, Klik disini)
(fanfict ini buatan Dan dari website perjalananshed.blogspot.com..kalau kalian menemukan tulisan ini di tempat lain selain di web tersebut, berarti tulisan ini telah dibajak)
~danielshedley
(baca selengakapnya, Klik disini)
(fanfict ini buatan Dan dari website perjalananshed.blogspot.com..kalau kalian menemukan tulisan ini di tempat lain selain di web tersebut, berarti tulisan ini telah dibajak)
~danielshedley
©2009-2012 Shed's Blog Allright ReservedSenin, 16 September 2013
Jumat, 19 April 2013
Entri 2 #005 - Pohon Rindang
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan perkataan kakek tadi. Memang terdengar gila.. tapi itulah yang terjadi.
Tanpa terasa, aku melewati papan bertuliskan 'Rute 01'. Menurut peta, ini berarti aku akan sampai ke Kota Pallet.
Aku sangat tidak sabar untuk ke Kota Pallet untuk bertemu professor Oak. Dia adalah Professor terkenal dan tahu banyak tentang Pokemon, maka dari itu aku sangat menggemarinya. Maka dari itulah aku mau-mau saja di suruh kakakku ke Kanto hanya untuk mengantarkan barangnya ini ke Professor Oak. Habis, siapa juga yang mau disuruh pergi jauh ke region yang berbeda?
"Uuuhh..", tiba-tiba saja terdengar suara orang meringis kesakitan. Aku menghentikan langkahku sejenak dan melihat sekitar. Tidak ada apa-apa. hanya pohon-pohon dan rerumputan.
Aku pun melanjutkan langkahku.
"Kau.. tolong aku.."
Lagi-lagi suara itu muncul. Siapa sih? pikirku. Rute 1 terlihat sangat sepi, bahkan aku tak merasakan adanya Pokemon disini. Tak ada siapapun. Hanya aku dan rerumputan. Mungkin hanya perasaanku saja.
"Kau.. kau yang berambut kuning.. tolong aku"
"Siapa itu!?", Suara itu mulai membuatku kesal.
"Aku.. disini.. dibawah pohon beringin..", sahut suara itu.
Aku mencari pohon beringin terdekat.. Oh, ada beberapa meter di sebelah kiriku. Aku mulai mendekat secara perlahan.
Aku beridiri tepat dibawah pohon rindang tersebut. Tak ada siapa-siapa. Jangan-jangan Pokemon, pikirku.
Tanpa terasa, aku melewati papan bertuliskan 'Rute 01'. Menurut peta, ini berarti aku akan sampai ke Kota Pallet.
Aku sangat tidak sabar untuk ke Kota Pallet untuk bertemu professor Oak. Dia adalah Professor terkenal dan tahu banyak tentang Pokemon, maka dari itu aku sangat menggemarinya. Maka dari itulah aku mau-mau saja di suruh kakakku ke Kanto hanya untuk mengantarkan barangnya ini ke Professor Oak. Habis, siapa juga yang mau disuruh pergi jauh ke region yang berbeda?
"Uuuhh..", tiba-tiba saja terdengar suara orang meringis kesakitan. Aku menghentikan langkahku sejenak dan melihat sekitar. Tidak ada apa-apa. hanya pohon-pohon dan rerumputan.
Aku pun melanjutkan langkahku.
"Kau.. tolong aku.."
Lagi-lagi suara itu muncul. Siapa sih? pikirku. Rute 1 terlihat sangat sepi, bahkan aku tak merasakan adanya Pokemon disini. Tak ada siapapun. Hanya aku dan rerumputan. Mungkin hanya perasaanku saja.
"Kau.. kau yang berambut kuning.. tolong aku"
"Siapa itu!?", Suara itu mulai membuatku kesal.
"Aku.. disini.. dibawah pohon beringin..", sahut suara itu.
Aku mencari pohon beringin terdekat.. Oh, ada beberapa meter di sebelah kiriku. Aku mulai mendekat secara perlahan.
Aku beridiri tepat dibawah pohon rindang tersebut. Tak ada siapa-siapa. Jangan-jangan Pokemon, pikirku.
Minggu, 01 Juli 2012
Entri 2 #004 - Terjawab
Aku menginap di rumah Kakek tersebut. Rumah yang tidak begitu besar ini lumayan nyaman untuk ditinggali. Kakek tidur dikamarnya sedang aku memutuskan untuk tidur di ruang depan.
Malam itu kota Viridian sangat sepi. Entah karena sudah malam, atau memang kota Viridian tidak bising seperti kota-kota yang lainnya.
Walau keadaannya yang mendukung untuk tidur, namun aku tetap bangun. Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Kakek tadi sore : aku bisa membaca pikiran Pokemon.
Ya, mengejutkan. Tak menyangka bahwa aku, seorang pelatih biasa dari Kota Mauville, ternyata memiliki kemampuan unik yang hanya dimiliki sedikit orang.
Awalnya aku sempat tidak percaya dengan ucapan kakek, namun pikiranku berubah begitu aku mengingat semua kejadian yang pernah terjadi waktu dulu.
Ternyata, semua suara misterius yang sering kudengar adalah suara Pokemon yang berada di sekitarku. Aku baru sadar, kalau yang mengatakan aku apatis adalah Milotic-ku sendiri, yang memberi tahu untuk menyerang sayap Altaria saat melawan Winona adalah Pokemon-ku sendiri. Dan semua sakit kepala yang kurasakan, adalah upaya dari Pokemon-Pokemon itu untuk berkomunikasi denganku secara mental.
Semua terjawab. Semua titik akhirnya tersambung.
Esok paginya, aku langsung beres-beres dan bersiap untuk melanjutkan perjalananku. Pokemon yang kubawa ke Kanto hanya 2, yaitu : Poseidon si Starmie, dan Mag si Magneton. Tujuanku melakukan ini adalah, agar tidak mencolok. Karena membawa Pokemon yang bukan berasal dari Kanto, seperti Sceptile, bisa memancing perhatian dan menjadi sasaran orang berbahaya, seperti Tim Roket. Apalagi Aggron-ku Shiny.
"Shed", sapa Kakek tersebut.
"I-iya?"
"Hutan Viridian memiliki kekuatan misterius", Kata Kakek pelan.
Aku diam. Tidak mengerti maksudnya apa.
"Kau.. apakah dulu pernah tinggal disini? Atau memiliki darah keturunan orang Viridian?", lanjut kakek bertanya.
"Ti-tidak. Aku murni berasal dari Hoenn", jawabku. Lagi-lagi kakek menanyakan pertanyaan yang aneh.
Setelah semua siap, aku langsung berpamitan dengan Kakek. Sebelum pergi, dia memberiku sebuah nasihat, "Hati-hati. Jangan paksakan kemampuanmu. Kau sedikit berbeda denganku atau yang lainnya"
Aku tak mengerti apa maksudnya, tapi aku mengangguk saja dan langsung bergegas menuju kota Pallet.
Malam itu kota Viridian sangat sepi. Entah karena sudah malam, atau memang kota Viridian tidak bising seperti kota-kota yang lainnya.
Walau keadaannya yang mendukung untuk tidur, namun aku tetap bangun. Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Kakek tadi sore : aku bisa membaca pikiran Pokemon.
Ya, mengejutkan. Tak menyangka bahwa aku, seorang pelatih biasa dari Kota Mauville, ternyata memiliki kemampuan unik yang hanya dimiliki sedikit orang.
Awalnya aku sempat tidak percaya dengan ucapan kakek, namun pikiranku berubah begitu aku mengingat semua kejadian yang pernah terjadi waktu dulu.
Ternyata, semua suara misterius yang sering kudengar adalah suara Pokemon yang berada di sekitarku. Aku baru sadar, kalau yang mengatakan aku apatis adalah Milotic-ku sendiri, yang memberi tahu untuk menyerang sayap Altaria saat melawan Winona adalah Pokemon-ku sendiri. Dan semua sakit kepala yang kurasakan, adalah upaya dari Pokemon-Pokemon itu untuk berkomunikasi denganku secara mental.
Semua terjawab. Semua titik akhirnya tersambung.
Esok paginya, aku langsung beres-beres dan bersiap untuk melanjutkan perjalananku. Pokemon yang kubawa ke Kanto hanya 2, yaitu : Poseidon si Starmie, dan Mag si Magneton. Tujuanku melakukan ini adalah, agar tidak mencolok. Karena membawa Pokemon yang bukan berasal dari Kanto, seperti Sceptile, bisa memancing perhatian dan menjadi sasaran orang berbahaya, seperti Tim Roket. Apalagi Aggron-ku Shiny.
"Shed", sapa Kakek tersebut.
"I-iya?"
"Hutan Viridian memiliki kekuatan misterius", Kata Kakek pelan.
Aku diam. Tidak mengerti maksudnya apa.
"Kau.. apakah dulu pernah tinggal disini? Atau memiliki darah keturunan orang Viridian?", lanjut kakek bertanya.
"Ti-tidak. Aku murni berasal dari Hoenn", jawabku. Lagi-lagi kakek menanyakan pertanyaan yang aneh.
Setelah semua siap, aku langsung berpamitan dengan Kakek. Sebelum pergi, dia memberiku sebuah nasihat, "Hati-hati. Jangan paksakan kemampuanmu. Kau sedikit berbeda denganku atau yang lainnya"
Aku tak mengerti apa maksudnya, tapi aku mengangguk saja dan langsung bergegas menuju kota Pallet.
Jumat, 15 Juni 2012
Entri 2 #003 - Kakek Tua
Sebelum membaca - Untuk season 2 ini, nama Magneton Shed diubah dari Max(Maxilliam) Jadi Mag.
Kepalaku terasa ringan, aku bangkit dari tidurku dan melihat kesekitar.
Ada 2 Pokemon-ku berdiri disamping. Sepertinya mereka daritadi menungguku siuman.
"Mag? Poseidon?" Kataku pelan.
Ini dimana? Apa yang terjadi?
"Oh bagus kau sudah siuman rupanya!" Terdengar suara kakek-kakek tua dari belakang.
Benar, terlihat seorang kakek tua, bersama seekor Butterfree disampingnya, sedang menyeduh teh.
Kakek itu menyodorkan teh hangat kepadaku.
"Siapa.. ini dimana!?", Tanyaku panik.
"Tenang, aku bukan orang jahat, sekarang kau ada dirumahku, di kota Viridian"
Aku melihat sekitar, sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu.
"Kau kutemukan tak sadarkan diri, di hutan Viridian", lanjut kakek tersebut.
"Tak sadar? Hutan viridian?", Aku mencoba menggali ingatanku.
"Kau tak ingat? Aku awalnya dalam perjalanan pulang dari kota Pewter, lalu mendengar jeritan seseorang, setelah itu kutemukan kau tak sadarkan diri"
"Oh ya?",
Aku terus mencoba menggali ingatanku.. Yang aku ingat, aku melewati Goa Diglett untuk menuju Kota Pewter.. lalu.. lalu.. tidak ingat.
**
Bangun... ayo bangunlah...Kepalaku terasa ringan, aku bangkit dari tidurku dan melihat kesekitar.
Ada 2 Pokemon-ku berdiri disamping. Sepertinya mereka daritadi menungguku siuman.
"Mag? Poseidon?" Kataku pelan.
Ini dimana? Apa yang terjadi?
"Oh bagus kau sudah siuman rupanya!" Terdengar suara kakek-kakek tua dari belakang.
Benar, terlihat seorang kakek tua, bersama seekor Butterfree disampingnya, sedang menyeduh teh.
Kakek itu menyodorkan teh hangat kepadaku.
"Siapa.. ini dimana!?", Tanyaku panik.
"Tenang, aku bukan orang jahat, sekarang kau ada dirumahku, di kota Viridian"
Aku melihat sekitar, sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu.
"Kau kutemukan tak sadarkan diri, di hutan Viridian", lanjut kakek tersebut.
"Tak sadar? Hutan viridian?", Aku mencoba menggali ingatanku.
"Kau tak ingat? Aku awalnya dalam perjalanan pulang dari kota Pewter, lalu mendengar jeritan seseorang, setelah itu kutemukan kau tak sadarkan diri"
"Oh ya?",
Aku terus mencoba menggali ingatanku.. Yang aku ingat, aku melewati Goa Diglett untuk menuju Kota Pewter.. lalu.. lalu.. tidak ingat.
Jumat, 18 Mei 2012
Entri 2 #002 - Tarik Garis
"Hey, Shed! kau sudah sampai ke Kanto?", Tanya kakakku di seberang telepon.
"Sudah, sekarang aku sedang berada di Pokemon Center kota Vermillion"
"Oohh kau menggunakan telpon umum Pokemon Center ya?"
Jarak yang jauh antara Kanto dan Hoenn membuat komunikasi antar PokeNav sulit dilakukan.
"Eh iya, Kak. Jadi sekarang aku langsung ke kota Pallet dan mengantarkan barang ini ke Professor Oak?" Tanyaku sembari mengeluarkan sebuah paket dari tas.
"Ya.. iya. Yang penting cepat sampai. Habis itu kalau kau ingin jalan-jalan disana sebelum pulang terserah"
Setelah berbincang-bincag cukup lama, akhirnya aku menutup telepon.
Berarti tujuanku sekarang adalah kota Pallet. Aku menelaah peta Kanto yang tertera di dinding Pokemon Center.
Ternyata jarak kota Vermillion dan Pallet lumayan jauh, susah juga kalau begini.
Plok. Seseorang menepuk pundakku, rupanya itu Ghaz, orang yang tadi aku temui di kapal.
"Kau terlihat serius sekali, Shed. Kau memang mau kemana?" Kata Ghaz sembari menyesap segelas minuman dingin.
"Ini" Aku menarik garis antara Vermillion ke Pallet.
"Kira-kira ada jalan pintas tidak ya?" Lanjutku.
"Ke kota Pallet? Tidak ada"
"Oh, begitu ya" Kataku pasrah.
"Tapi.. kau bisa motong jalan langsung ke dekat kota Pewter" Gaz menunjuk ke salah satu titik di peta.
Ternyata kota Pewter berada di utara kota Viridian, dan Viridian berada di utara kota Pallet.
Ternyata jarak kota Vermillion dan Pallet lumayan jauh, susah juga kalau begini.
Plok. Seseorang menepuk pundakku, rupanya itu Ghaz, orang yang tadi aku temui di kapal.
"Kau terlihat serius sekali, Shed. Kau memang mau kemana?" Kata Ghaz sembari menyesap segelas minuman dingin.
"Ini" Aku menarik garis antara Vermillion ke Pallet.
"Kira-kira ada jalan pintas tidak ya?" Lanjutku.
"Ke kota Pallet? Tidak ada"
"Oh, begitu ya" Kataku pasrah.
"Tapi.. kau bisa motong jalan langsung ke dekat kota Pewter" Gaz menunjuk ke salah satu titik di peta.
Ternyata kota Pewter berada di utara kota Viridian, dan Viridian berada di utara kota Pallet.
Rabu, 11 April 2012
Entri 2 #001 - Perjalanan Baru
Sempat terdapat kesalahan dalam penamaan di episode ini (tapi sudah dibetulkan), saya memohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan anda.
HEYY GUYSS! Disini Daniel Shedley! seperti yang anda tahu, ini adalah chapter atau season kedua dari Shed's Blog! Ceritanya mengambil setting setelah semua kejadian di season/chapter 1 (Yaiyalah..)
Mulai chapter ini, ada perubahan dalam penandaan nomor episode. kalau biasanya dengan kata "Entri" dan nomor episode maka sekarang berbeda! seperti yang bisa anda lihat, sekarang ada tambahan angka 2 didepannya! maksudnya adalah chapter 2! tujuannya biar keliatan beda!
Jangan baca episode ini kalau chapter yang pertama (yang kemarin) belum selesai kalian baca!
Anyways, enjoy the new adventure of Shed!
Shed. Begitulah nama panggilanku. Aku adalah seorang pelatih Pokemon muda yang senang berpetualang. Ya, aku memang terlihat sama seperti pelatih kebanyakan, tapi sebenarnya aku memiliki kelebihan dibanding yang lain : aku sangat handal dalam pertarungan Pokemon.
Apa? Sombong? Tidak, aku tidak sombong. Aku hanya bicara kenyataan. Karena aku tidak mungkin bisa memenangkan liga Pokemon di Hoenn kalau aku tidak hebat.
"Hey" Tiba-tiba ada seseorang menyapaku. Sapaan tadi langsung memecah lamunanku.
"Kau baik-baik saja, kawan?" Lanjut orang tersebut.Aku melihat wajahnya. Siapa dia?
"Hmm" Jawabku acuh. Agak kesal juga lagi enak-enak melamun memandangi langit, tiba-tiba ada orang asing mengganggu.
HEYY GUYSS! Disini Daniel Shedley! seperti yang anda tahu, ini adalah chapter atau season kedua dari Shed's Blog! Ceritanya mengambil setting setelah semua kejadian di season/chapter 1 (Yaiyalah..)
Mulai chapter ini, ada perubahan dalam penandaan nomor episode. kalau biasanya dengan kata "Entri" dan nomor episode maka sekarang berbeda! seperti yang bisa anda lihat, sekarang ada tambahan angka 2 didepannya! maksudnya adalah chapter 2! tujuannya biar keliatan beda!
Jangan baca episode ini kalau chapter yang pertama (yang kemarin) belum selesai kalian baca!
Anyways, enjoy the new adventure of Shed!
Shed. Begitulah nama panggilanku. Aku adalah seorang pelatih Pokemon muda yang senang berpetualang. Ya, aku memang terlihat sama seperti pelatih kebanyakan, tapi sebenarnya aku memiliki kelebihan dibanding yang lain : aku sangat handal dalam pertarungan Pokemon.
Apa? Sombong? Tidak, aku tidak sombong. Aku hanya bicara kenyataan. Karena aku tidak mungkin bisa memenangkan liga Pokemon di Hoenn kalau aku tidak hebat.
"Hey" Tiba-tiba ada seseorang menyapaku. Sapaan tadi langsung memecah lamunanku.
"Kau baik-baik saja, kawan?" Lanjut orang tersebut.Aku melihat wajahnya. Siapa dia?
"Hmm" Jawabku acuh. Agak kesal juga lagi enak-enak melamun memandangi langit, tiba-tiba ada orang asing mengganggu.
Rabu, 11 Januari 2012
~ End of Chapter 1 ~
Hey semua bersama Daniel Shedley disini!
Siapa itu Daniel Shedley? Well, Daniel Sheldey adalah dalang dibalik cerita Shed's blog.
Saya adalah orang yang menciptakan karakter Shed Reever dan beberapa karakter lainnya.
Seperti yang bisa kalian saksikan, Shed's Blog sudah tamat! (hore!)
Akhirnya hal yang saya mulai 2 tahun lalu sudah selesai dalam 54 episode!
Baca mulai dari episode 1!
Entri #001 - Awal dari sesuatu
Karena sudah selesai, saya akan basa basi sedikit mengenai Shed's Blog,
SPOILER ALERT!
BAGI YANG BELOM BACA CERITANYA SAMPAI HABIS DIHARAP JANGAN BUKA!
TULISAN DIBAWAH BERISI SPOILER CERITA SHED'S BLOG
SPOILER!
Siapa itu Daniel Shedley? Well, Daniel Sheldey adalah dalang dibalik cerita Shed's blog.
Saya adalah orang yang menciptakan karakter Shed Reever dan beberapa karakter lainnya.
Seperti yang bisa kalian saksikan, Shed's Blog sudah tamat! (hore!)
Akhirnya hal yang saya mulai 2 tahun lalu sudah selesai dalam 54 episode!
Baca mulai dari episode 1!
Entri #001 - Awal dari sesuatu
Karena sudah selesai, saya akan basa basi sedikit mengenai Shed's Blog,
SPOILER ALERT!
BAGI YANG BELOM BACA CERITANYA SAMPAI HABIS DIHARAP JANGAN BUKA!
TULISAN DIBAWAH BERISI SPOILER CERITA SHED'S BLOG
SPOILER!
Jumat, 06 Januari 2012
Entri #054 - Keluarga
"Baiklah, habisi dengan Leaf Blade!!" Skywalker, Sceptile kesayanganku langsung bergerak cepat dan menyerang Seaking. Dan bisa ditebak, Seaking tersebut langsung kalah.
"Aku menang, Wallace" Kataku.
"Hahaha, hebat juga kau 'nak" Wallace berjalan mendekatiku.
"Ini, Lencana terakhirmu" Wallace memberikanku lencana hujan. Lencana terakhir yang harus kudapatkan agar bisa ikut dalam Liga Pokemon di kota Ever Grande.
Jumat, 23 Desember 2011
Entri #053 - Slateport
Surat tersebut hanya secarik kertas yang dilipat berbentuk persegi panjang.
Aku membuka lipatan kertas tersebut, dan membaca sebuah tulisan yang tertera didalamnya.
Aku membuka lipatan kertas tersebut, dan membaca sebuah tulisan yang tertera didalamnya.
Hey, Shed, jika kau membaca tulisan ini, berarti kau sudah sadar.
Semoga Sammon menyelamatkanmu cepat waktu.
Karena jika tidak, mungkin kau tidak akan tahu siapa yang menulis tulisan ini.
Temui aku di pelabuhan kota Slateport. hari Senin jam 9 pagi.
Jumat, 09 Desember 2011
Entri #052 - Sejelas Kristal
Gelap. Semua terlihat gelap.
Apapun itu, selalu berakhir dengan kegelapan.
Entah seterang apapun itu, semua akan berakhir dengan kegelapan.
Dan setelah kegelapan muncul, tak ada yang bisa dilakukan kecuali berharap.
Nyeh, ngomong apa aku ini. Kenapa tiba-tiba aku jadi puitis begini?
Yang paling penting sekarang, aku sedang berada dimana? aku tak bisa merasakan tubuhku, semua inderaku tak berfungsi..
Apakah aku sedang tertidur? atau sudah.....
ah, entahlah, aku tak bisa mengingat apa-apa.Kosong.
Apapun itu, selalu berakhir dengan kegelapan.
Entah seterang apapun itu, semua akan berakhir dengan kegelapan.
Dan setelah kegelapan muncul, tak ada yang bisa dilakukan kecuali berharap.
Nyeh, ngomong apa aku ini. Kenapa tiba-tiba aku jadi puitis begini?
Yang paling penting sekarang, aku sedang berada dimana? aku tak bisa merasakan tubuhku, semua inderaku tak berfungsi..
Apakah aku sedang tertidur? atau sudah.....
ah, entahlah, aku tak bisa mengingat apa-apa.Kosong.
Jumat, 28 Oktober 2011
Entri #051 - Berakhir?
Semuanya gelap, suara gaduh dimana-mana. Aku bisa menebak suara gaduh itu berasal dari suara semua kru yang ada di tempat ini. Aku bisa mengerti sih, siapa juga yang gak panik kalau sedang berada di sebuah markas bawah laut yang mati listrik?
Suara misterius itu sekarang sudah seperti menempel di kepalaku, mungkin karena dia sering mencoba "mengkontak" aku, sehingga sekarang kepalaku menjadi kebal akan rasa sakitnya. Yah.. masih sakit sih setiap dia bicara, tapi tidak seperti biasanya.
Suara itu juga sedang membantuku untuk kabur dari tempat ini. Sekarang dia bersikap seperti sebuah alat navigasi super canggih. Intinya, apa yang dia katakan turuti saja, dengan begitu aku bisa keluar (katanya). Aku tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal tersebut. Jangankan hal itu, aku saja sampai sekarang masih belum tau siapa dia, dan kenapa suaranya sering muncul di kepalaku.
Stop, sekarang belok kanan, jangan lari, nanti anda akan bertemu sebuah pintu maka anda akan bertemu Claire.
Claire? oke. Aku langsung dengan gaya mengendap-endap mencoba untuk menemukan pintu tersebut.
Aha! ini dia! walaupun gelap tapi tanganku bisa merasakan ada tekstur yang berbeda, berbeda dari tembok.
buka pintunya.
Buka pintunya? bagaimana bisa? kan gelap!
"Hey, bagaimana aku bisa tahu letak pintunya!"
tidak ada jawaban
Disaat begini.. kemana dia? bagaimana aku bisa... oh ada knop pintunya.
Kriiiit.. pintunya kubuka sedikit.
"Siapa disitu? Silahkan masuk!" Tibatiba ada suara misterius menyapaku.
"C-Claire? itu kau?"
"Bukan.. ini, aku, Aime" Seketika saja lampu kembali menyala bersamaan dengan kalimat itu diucapkan.
Aha! ini dia! walaupun gelap tapi tanganku bisa merasakan ada tekstur yang berbeda, berbeda dari tembok.
buka pintunya.
Buka pintunya? bagaimana bisa? kan gelap!
"Hey, bagaimana aku bisa tahu letak pintunya!"
tidak ada jawaban
Disaat begini.. kemana dia? bagaimana aku bisa... oh ada knop pintunya.
Kriiiit.. pintunya kubuka sedikit.
"Siapa disitu? Silahkan masuk!" Tibatiba ada suara misterius menyapaku.
"C-Claire? itu kau?"
"Bukan.. ini, aku, Aime" Seketika saja lampu kembali menyala bersamaan dengan kalimat itu diucapkan.
Kamis, 18 Agustus 2011
Entri #50 - Beberapa Menit Yang Lalu
Beberapa menit yang lalu...
"Latias dan Latios? Kau memiliki mereka?"
"Kau takut?"
"Tidak, aku malah merasa tertantang" Balasku mencoba untuk optimis.
Memang aku merasa tertantang, tapi aku tak begitu yakin akan menang. Ah, tidak, aku harus optimis. Aku pasti bisa melawan duo naga tersebut.
"Omong-omong, aku hanya ingin memberitahu kalau duo Pokemon naga ini kudapatkan dengan bantuan Claire" Kata Milo.
"Aku dan Claire memiliki semacam kekuatan untuk memanggil Latias dan Latios", Lanjutnya.
"Oh ya?" Balasku acuh. Dasar Milo aneh, disaat seperti ini malah bercerita.
"Sebenarnya, saat di kota Mosdeep kami berusaha untuk menangkap kau dan Claire bersamaan, namun sayang kalian bertengkar, jadi kau tak bisa tertangkap"
"Maksudmu perihal aku dan Claire dikejar Heracross di Safari Zone itu ulah kalian?"
"Latias dan Latios? Kau memiliki mereka?"
"Kau takut?"
"Tidak, aku malah merasa tertantang" Balasku mencoba untuk optimis.
Memang aku merasa tertantang, tapi aku tak begitu yakin akan menang. Ah, tidak, aku harus optimis. Aku pasti bisa melawan duo naga tersebut.
"Omong-omong, aku hanya ingin memberitahu kalau duo Pokemon naga ini kudapatkan dengan bantuan Claire" Kata Milo.
"Aku dan Claire memiliki semacam kekuatan untuk memanggil Latias dan Latios", Lanjutnya.
"Oh ya?" Balasku acuh. Dasar Milo aneh, disaat seperti ini malah bercerita.
"Sebenarnya, saat di kota Mosdeep kami berusaha untuk menangkap kau dan Claire bersamaan, namun sayang kalian bertengkar, jadi kau tak bisa tertangkap"
"Maksudmu perihal aku dan Claire dikejar Heracross di Safari Zone itu ulah kalian?"
Sabtu, 18 Juni 2011
Entri #049 - Memori yang Buram
"Baiklah, kalau begitu biarkan aku pergi menyelamatkan mereka"
"Kau.. tidak berpikir aku akan membiarkanmu begitu saja bukan?"
Aku tersenyum lebar. Kedua tanganku bersiap untuk melempar PokeBall.
Milo ikut tersenyum.
"Maju! Latias dan Latios!" Milo berteriak kencang.
Dua sosok naga berwarna merah dan biru muncul tiba-tiba. Apa? Latias dan Latios? Dua Pokemon legenda itu? Bagaimana Milo bisa mendapatkannya?
"La..tias-Latios? Kau memiliki mereka?"
"Kau takut?", Milo menaikan alis matanya.
"Tidak, aku malah sangat merasa tertantang"
"Kau.. tidak berpikir aku akan membiarkanmu begitu saja bukan?"
Aku tersenyum lebar. Kedua tanganku bersiap untuk melempar PokeBall.
Milo ikut tersenyum.
"Maju! Latias dan Latios!" Milo berteriak kencang.
Dua sosok naga berwarna merah dan biru muncul tiba-tiba. Apa? Latias dan Latios? Dua Pokemon legenda itu? Bagaimana Milo bisa mendapatkannya?
"La..tias-Latios? Kau memiliki mereka?"
"Kau takut?", Milo menaikan alis matanya.
"Tidak, aku malah sangat merasa tertantang"
Sabtu, 07 Mei 2011
Entri #048 : Dimana?
"AAPPAA!?!?"
Tubuh Milotic yang besar dan berwarna kuning lama kelamaan menciut dan berubah menjadi warna merah, lalu masuk kedalam PokeBall-ku.
"Apa yang barusan terjadi!? Kok bisa!?" Reiji berteriak penuh keheranan. Wajar memang, kalau aku adalah dia, aku juga pasti akan heran. Sangat heran.
"Seumur-umur aku hidup baru tahu ada seseorang bisa menangkap Pokemon orang lain!!" Tanya Reiji dengan keheranan, sementara itu si Aime melongo seperti ikan yang belum diberi makan.
Reiji berlari menghampiri dan merebut PokeBall yang ada ditangan kananku. Reiji seperti memeriksa PokeBall-ku, hingga diterawang segala. Memangnya PokeBall-ku uang palsu.
"PokeBall-mu tidak ada yang aneh kok.. Tapi bagaimana kau melakukan hal tadi? Apakah ini juga termasuk 'kemampuan' yang kau punya? Menangkap Pokemon lawan?" Reiji bertanya dengan muka penuh keheranan, seperti seorang anak kecil yang baru tahu kalau Vibrava adalah evolusi dari Trapinch.
"Hahahaha kau ini seperti anak kecil saja", Kataku santai.
Tubuh Milotic yang besar dan berwarna kuning lama kelamaan menciut dan berubah menjadi warna merah, lalu masuk kedalam PokeBall-ku.
"Apa yang barusan terjadi!? Kok bisa!?" Reiji berteriak penuh keheranan. Wajar memang, kalau aku adalah dia, aku juga pasti akan heran. Sangat heran.
"Seumur-umur aku hidup baru tahu ada seseorang bisa menangkap Pokemon orang lain!!" Tanya Reiji dengan keheranan, sementara itu si Aime melongo seperti ikan yang belum diberi makan.
Reiji berlari menghampiri dan merebut PokeBall yang ada ditangan kananku. Reiji seperti memeriksa PokeBall-ku, hingga diterawang segala. Memangnya PokeBall-ku uang palsu.
"PokeBall-mu tidak ada yang aneh kok.. Tapi bagaimana kau melakukan hal tadi? Apakah ini juga termasuk 'kemampuan' yang kau punya? Menangkap Pokemon lawan?" Reiji bertanya dengan muka penuh keheranan, seperti seorang anak kecil yang baru tahu kalau Vibrava adalah evolusi dari Trapinch.
"Hahahaha kau ini seperti anak kecil saja", Kataku santai.
Jumat, 15 April 2011
Entri #047 : Apatis
*Apatis : Ketidakpedulian, sikap masa bodoh
"Kau benar-benar hebat, Shed. Aku tak menyangka kau bisa menemukan ruangan ini" Puji Aime.
"Kalau aku tidak hebat, mungkin kau tak akan berusaha untuk menyingkirkanku" balasku tersenyum.
Aime membalas kembali senyumku, ditambah dengan telunjuknya yang mengarah padaku.
"Hydro Pump!" Tekanan air yang besar menghantamku, Synyster dan Reiji. Synyster dan Reiji terlihat lemas.
"Synyster, kembali ke PokeBall-mu!"
"Hahahahahaha.. Sekarang kau mati kutu, Shed. Kedua temanmu tak ada yang sadar"
"Berarti kita sekarang satu lawan satu" Kataku sembari menghampiri Reiji yang tak sadarkan diri. Aku mngecek nadinya. Oh, masih berdenyut. Berarti dia hanya pingsan.
"Satu lawan satu? Rupanya kau menantangku, ya?" Aime tertawa.
"Milotic, Hydro Pump!" Perintah dia lagi.
Jadi Pokemon yang dari tadi menyerangku adalah Milotic?
"Kau benar-benar hebat, Shed. Aku tak menyangka kau bisa menemukan ruangan ini" Puji Aime.
"Kalau aku tidak hebat, mungkin kau tak akan berusaha untuk menyingkirkanku" balasku tersenyum.
Aime membalas kembali senyumku, ditambah dengan telunjuknya yang mengarah padaku.
"Hydro Pump!" Tekanan air yang besar menghantamku, Synyster dan Reiji. Synyster dan Reiji terlihat lemas.
"Synyster, kembali ke PokeBall-mu!"
"Hahahahahaha.. Sekarang kau mati kutu, Shed. Kedua temanmu tak ada yang sadar"
"Berarti kita sekarang satu lawan satu" Kataku sembari menghampiri Reiji yang tak sadarkan diri. Aku mngecek nadinya. Oh, masih berdenyut. Berarti dia hanya pingsan.
"Satu lawan satu? Rupanya kau menantangku, ya?" Aime tertawa.
"Milotic, Hydro Pump!" Perintah dia lagi.
Jadi Pokemon yang dari tadi menyerangku adalah Milotic?
Selasa, 22 Maret 2011
Entri #046 : Terobos
"Synyster, maju!" Aku memanggil Lairon-ku.
"Kau yakin lewat sini?" Reiji mengerutkan dahinya.
"Yahh.. kita harus percaya kakakku"
Sekarang aku sedang menyusup markas Divisi dua. Aku dan Reiji, memutuskan untuk menelusuri tempat ini untuk mencari Claire, sedangkan Kakakku tetap di tempat awal kami, mengawasi Aku dan Reiji dengan komputer. Dan sekarang, kata Kakakku, sudah mendekati ruangan tempat Claire berada. Thanks to Porygon2.
"Shed, jika kau lihat, di ujung lorong ada pintu besi" Kata kakakku melalui PokeNav.
"Ya, Aku lihat."
"Pintu itu sangat kuat, dan harus dibuka secara-"
"Kenapa harus omong panjang lebar? AKu tahu cara membukanya" Aku mematikan PokeNav.
Reiji berjalan mendekati pintu tersebut.
"Sepertinya harus dibuka secara manual, tak ada gagang pintunya, atau butuh kata sandi" Katanya berbisik.
"Aku tahu kok.. Synyster, Strength!" Synyster berlari cepat kearah pintu.
Reiji kaget dan langsung melompat tinggi menghindari Synyster. Aku lupa ada Reiji di dekat pintu tersebut. Pintu tersebut langsung hancur, gepeng, seperti kaleng minuman yang telah di gencet dan menjadi lembaran logam gepeng.
"Bodoh kau! Hampir saja tubuhku hancur!" Amuk Reiji. Aku hanya tertawa.
"Kau yakin lewat sini?" Reiji mengerutkan dahinya.
"Yahh.. kita harus percaya kakakku"
Sekarang aku sedang menyusup markas Divisi dua. Aku dan Reiji, memutuskan untuk menelusuri tempat ini untuk mencari Claire, sedangkan Kakakku tetap di tempat awal kami, mengawasi Aku dan Reiji dengan komputer. Dan sekarang, kata Kakakku, sudah mendekati ruangan tempat Claire berada. Thanks to Porygon2.
"Shed, jika kau lihat, di ujung lorong ada pintu besi" Kata kakakku melalui PokeNav.
"Ya, Aku lihat."
"Pintu itu sangat kuat, dan harus dibuka secara-"
"Kenapa harus omong panjang lebar? AKu tahu cara membukanya" Aku mematikan PokeNav.
Reiji berjalan mendekati pintu tersebut.
"Sepertinya harus dibuka secara manual, tak ada gagang pintunya, atau butuh kata sandi" Katanya berbisik.
"Aku tahu kok.. Synyster, Strength!" Synyster berlari cepat kearah pintu.
Reiji kaget dan langsung melompat tinggi menghindari Synyster. Aku lupa ada Reiji di dekat pintu tersebut. Pintu tersebut langsung hancur, gepeng, seperti kaleng minuman yang telah di gencet dan menjadi lembaran logam gepeng.
"Bodoh kau! Hampir saja tubuhku hancur!" Amuk Reiji. Aku hanya tertawa.
Rabu, 16 Maret 2011
Entri #045 : Kelebihan Manusia
"Hiaatt!!" BRAK! Aku terus mencoba untuk mendobrak tembok kaca ini. Memang sih kita sekarang sudah berada di dalam markas mereka.. Tapi kalau begini sama saja bohong!
"Shed, hentikan, kau tidak akan bisa mendobraknya" Sammon berkata dengan tenang.
Aku mengabaikan perkataan Kakakku dan terus mencoba mendobrak tembok kaca yang mengurung kita seperti di dalam sel kaca. Aku terus menendang, memukul, mendabrak dan hal lainnya agar tembok ini hancur. Tapi tidak ada yang berhasil, yang ada malah badanku yang hancur dan kecapaian.
"Shed, hentikan!" Sammon menarik tubuhku.
"Tak ada salahnya mencoba, lagi pula tidak ada jalan lain 'kan?" Kataku ngos-ngosan.
"Ada, ada jalan lain" Reiji tiba-tiba memotong.
"Oh ya?" Aku berbaring di lantai sembari mengelap keringat yang bercucuran. "Apa itu?" Lanjutku lagi setengah tak percaya.
Reiji tersenyum. Lalu dia berjalan ke tembok kaca yang dari tadi aku coba hancurkan. Reiji terlihat mengamati keadaan diluar sel kaca ini. Ruangan di luar sel tidak ada orang, karena Milo baru saja keluar, dan isinya lumayan sederhana. Hanya berisi seperangkat komputer-super canggih, meja dengan gadget-gadget gak jelas, sebuah lemari dan pintu besi.
"Kita bisa membuka ini dari luar. Dengan Pokemon" Kata Reiji.
"Ide yang bagus. Tapi sayang sekali karena POKEMON KITA 'KAN ADA DI LUAR!!" Aku berteriak emosi. Habis, kalau Pokemon kita ada disini, pasti aku sudah menggunakan Pokemonku dari tadi.
"Shed, hentikan, kau tidak akan bisa mendobraknya" Sammon berkata dengan tenang.
Aku mengabaikan perkataan Kakakku dan terus mencoba mendobrak tembok kaca yang mengurung kita seperti di dalam sel kaca. Aku terus menendang, memukul, mendabrak dan hal lainnya agar tembok ini hancur. Tapi tidak ada yang berhasil, yang ada malah badanku yang hancur dan kecapaian.
"Shed, hentikan!" Sammon menarik tubuhku.
"Tak ada salahnya mencoba, lagi pula tidak ada jalan lain 'kan?" Kataku ngos-ngosan.
"Ada, ada jalan lain" Reiji tiba-tiba memotong.
"Oh ya?" Aku berbaring di lantai sembari mengelap keringat yang bercucuran. "Apa itu?" Lanjutku lagi setengah tak percaya.
Reiji tersenyum. Lalu dia berjalan ke tembok kaca yang dari tadi aku coba hancurkan. Reiji terlihat mengamati keadaan diluar sel kaca ini. Ruangan di luar sel tidak ada orang, karena Milo baru saja keluar, dan isinya lumayan sederhana. Hanya berisi seperangkat komputer-super canggih, meja dengan gadget-gadget gak jelas, sebuah lemari dan pintu besi.
"Kita bisa membuka ini dari luar. Dengan Pokemon" Kata Reiji.
"Ide yang bagus. Tapi sayang sekali karena POKEMON KITA 'KAN ADA DI LUAR!!" Aku berteriak emosi. Habis, kalau Pokemon kita ada disini, pasti aku sudah menggunakan Pokemonku dari tadi.
Jumat, 25 Februari 2011
Entri #044 : Tujuan dan Latar Belakang
Aku duduk di sebuah ruangan berbentuk persegi, dengan tembok dan lantai yang terbuat dari semen. Aku tak yakin apa yang sedang kulakukan disini. Satu hal yang pasti, aku tidak melihat satu pun orang di ruangan ini. Dimana aku? dan, Sedang apa aku disini?
"Jadi, Shed, apa sebenarnya tujuanmu kesini?" Terdengar suara misterius menggema di ruangan. "Ayo cepat jawab jika kau mau keluar dari sini"
"Aku.. tujuanku kesini adalah untuk mengetahui tujuan dari dibuatnya Divisi Dua dari Tim Aqua! Aku yakin pasti sesuatu yang tidak baik! Atau malah lebih buruk dari Tim Aqua yang selama ini ada di TV!" Aku mengatakan semua tujuanku. Aku sebenarnya tidak mau mengatakannya secara blak-blakan, tapi entah kenapa aku tak bisa mengontrol mulutku.
"Jadi, Shed, apa sebenarnya tujuanmu kesini?" Terdengar suara misterius menggema di ruangan. "Ayo cepat jawab jika kau mau keluar dari sini"
"Aku.. tujuanku kesini adalah untuk mengetahui tujuan dari dibuatnya Divisi Dua dari Tim Aqua! Aku yakin pasti sesuatu yang tidak baik! Atau malah lebih buruk dari Tim Aqua yang selama ini ada di TV!" Aku mengatakan semua tujuanku. Aku sebenarnya tidak mau mengatakannya secara blak-blakan, tapi entah kenapa aku tak bisa mengontrol mulutku.
Jumat, 18 Februari 2011
Entri #043 : Menjemput Yang Hilang, Menghancurkan Yang Ada
"Sudah sadar?"
"Kak? Dimana ini?" Tanyaku lirih.
"kamar Pokemon Center. Kau yang terakhir bangun"
Aku segera mencoba untuk berdiri, namun badanku masih agak susah digerakan. Masih terasa kaku. Sepertinya ini efek dari Stun Spore tadi.
"Tate dan Liza sudah dari tadi sadar dan mereka kembali ke Gym" Kata Sammon.
"Iya, iya, lalu Claire? Bagaimana dengannya?" Sammon terdiam. Aku mengulang pertanyaanku dan dia tetap diam seakan dia tidak tahu jawabannya atau.. tidak mau memberi tahu jawabannya?
Sammon mengalihkan padangannya, mengindikasikan dia sedang berpikir. Apa yang dipikirkannya? Apakah jawabannya begitu sulit dikatakan? Dari sini aku sudah tahu bahwa pasti jawabannya tidak baik.
"Dia... hilang. Pasti ulah para Divisi dua" Kakakku menjawab dengan terbata. Sudah kuduga jawabannya akan semacam ini. Ini sudah keterlaluan. Apa yang mereka inginkan? Sungguh tidak jelas.
"Sekarang bagaimana?" Kataku menghela nafas. Kekesalanku sudah melebihi batas bahkan hingga aku sudah tidak bisa menunjukan ekspresi kesal lagi. Seperti sebuah benda yang bergerak sangat cepat sehingga kelihatannya bergerak lamban.
"Kak? Dimana ini?" Tanyaku lirih.
"kamar Pokemon Center. Kau yang terakhir bangun"
Aku segera mencoba untuk berdiri, namun badanku masih agak susah digerakan. Masih terasa kaku. Sepertinya ini efek dari Stun Spore tadi.
"Tate dan Liza sudah dari tadi sadar dan mereka kembali ke Gym" Kata Sammon.
"Iya, iya, lalu Claire? Bagaimana dengannya?" Sammon terdiam. Aku mengulang pertanyaanku dan dia tetap diam seakan dia tidak tahu jawabannya atau.. tidak mau memberi tahu jawabannya?
Sammon mengalihkan padangannya, mengindikasikan dia sedang berpikir. Apa yang dipikirkannya? Apakah jawabannya begitu sulit dikatakan? Dari sini aku sudah tahu bahwa pasti jawabannya tidak baik.
"Dia... hilang. Pasti ulah para Divisi dua" Kakakku menjawab dengan terbata. Sudah kuduga jawabannya akan semacam ini. Ini sudah keterlaluan. Apa yang mereka inginkan? Sungguh tidak jelas.
"Sekarang bagaimana?" Kataku menghela nafas. Kekesalanku sudah melebihi batas bahkan hingga aku sudah tidak bisa menunjukan ekspresi kesal lagi. Seperti sebuah benda yang bergerak sangat cepat sehingga kelihatannya bergerak lamban.
Kamis, 03 Februari 2011
Entri #042 : Klasik
"Tate, Liza, kalian yakin alat itu yang mereka ambil?"
"Iya, aku yakin alat detektornya berada di situ, namun sekarang hilang" Tate menunjuk salah satu lemari besi yang sudah berlubang. Ruangan dimana kami berada sekarang adalah ruang penelitian di Pusat Antariksa. Ruangan ini biasa dipakai untuk meneliti sesuatu. Mereka sepertinya sedang meneliti mengenai keberadaan Pokemon di luar angkasa sana, bisa dilihat dari berkas-berkas yang berceceran dimana-mana.
"Mereka menghancurkan generator utama, sehingga semua listrik mati, maka dari itu CCTV tidak bisa berfungsi" Lanjut Tate.
"Pantas saja lampu dan komputer disini tidak ada yang mau menyala" Balas Sammon. Detektor yang dicuri adalah alat yang digunakan untuk melacak Pokemon dengan menggunakan patokan sebuah benda yang berhubungan dengan Pokemon tersebut. Entah apa yang mereka mau lacak.
"Iya, aku yakin alat detektornya berada di situ, namun sekarang hilang" Tate menunjuk salah satu lemari besi yang sudah berlubang. Ruangan dimana kami berada sekarang adalah ruang penelitian di Pusat Antariksa. Ruangan ini biasa dipakai untuk meneliti sesuatu. Mereka sepertinya sedang meneliti mengenai keberadaan Pokemon di luar angkasa sana, bisa dilihat dari berkas-berkas yang berceceran dimana-mana.
"Mereka menghancurkan generator utama, sehingga semua listrik mati, maka dari itu CCTV tidak bisa berfungsi" Lanjut Tate.
"Pantas saja lampu dan komputer disini tidak ada yang mau menyala" Balas Sammon. Detektor yang dicuri adalah alat yang digunakan untuk melacak Pokemon dengan menggunakan patokan sebuah benda yang berhubungan dengan Pokemon tersebut. Entah apa yang mereka mau lacak.
Langganan:
Postingan (Atom)

