Apa Itu "Shed's Blog" ?

Shed's Blog merupakan fanfiction Pokemon bersambung karya danielshedley.

Fanfiction ini menceritakan tentang petualangan Shed, seorang pelatih Pokemon muda yang memulai petualangannya di region Hoenn.
Ditemani dengan Pokemon-Pokemon-nya yang diberi nama panggilan yang unik-unik, Shed akan menjadi pelatih Pokemon terhebat!
(baca selengakapnya, Klik disini)



(fanfict ini buatan Dan dari website perjalananshed.blogspot.com..kalau kalian menemukan tulisan ini di tempat lain selain di web tersebut, berarti tulisan ini telah dibajak)
~danielshedley

©2009-2012 Shed's Blog Allright Reserved


Tampilkan postingan dengan label hoenn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hoenn. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Entri #054 - Keluarga

"Baiklah, habisi dengan Leaf Blade!!" Skywalker, Sceptile kesayanganku langsung bergerak cepat dan menyerang Seaking. Dan bisa ditebak, Seaking tersebut langsung kalah.

"Aku menang, Wallace" Kataku.
"Hahaha, hebat juga kau 'nak" Wallace berjalan mendekatiku.
"Ini, Lencana terakhirmu" Wallace memberikanku lencana hujan. Lencana terakhir yang harus kudapatkan agar bisa ikut dalam Liga Pokemon di kota Ever Grande.

Jumat, 23 Desember 2011

Entri #053 - Slateport

Surat tersebut hanya secarik kertas yang dilipat berbentuk persegi panjang.
Aku membuka lipatan kertas tersebut, dan membaca sebuah tulisan yang tertera didalamnya.

Hey, Shed, jika kau membaca tulisan ini, berarti kau sudah sadar.
Semoga Sammon menyelamatkanmu cepat waktu.
Karena jika tidak, mungkin kau tidak akan tahu siapa yang menulis tulisan ini.
Temui aku di pelabuhan kota Slateport. hari Senin jam 9 pagi.

Jumat, 09 Desember 2011

Entri #052 - Sejelas Kristal

Gelap. Semua terlihat gelap.
Apapun itu, selalu berakhir dengan kegelapan.
Entah seterang apapun itu, semua akan berakhir dengan kegelapan.
Dan setelah kegelapan muncul, tak ada yang bisa dilakukan kecuali berharap.

Nyeh, ngomong apa aku ini. Kenapa tiba-tiba aku jadi puitis begini?
Yang paling penting sekarang, aku sedang berada dimana? aku tak bisa merasakan tubuhku, semua inderaku tak berfungsi..

Apakah aku sedang tertidur? atau sudah.....
ah, entahlah, aku tak bisa mengingat apa-apa.Kosong.

Jumat, 28 Oktober 2011

Entri #051 - Berakhir?

Semuanya gelap, suara gaduh dimana-mana. Aku bisa menebak suara gaduh itu berasal dari suara semua kru yang ada di tempat ini. Aku bisa mengerti sih, siapa juga yang gak panik kalau sedang berada di sebuah markas bawah laut yang mati listrik?

Tidak ada apa-apa di depan, lari.

Suara misterius itu sekarang sudah seperti menempel di kepalaku, mungkin karena dia sering mencoba "mengkontak" aku, sehingga sekarang kepalaku menjadi kebal akan rasa sakitnya. Yah.. masih sakit sih setiap dia bicara, tapi tidak seperti biasanya.

Suara itu juga sedang membantuku untuk kabur dari tempat ini. Sekarang dia bersikap seperti sebuah alat navigasi super canggih. Intinya, apa yang dia katakan turuti saja, dengan begitu aku bisa keluar (katanya). Aku tidak tahu kenapa dia bisa melakukan hal tersebut. Jangankan hal itu, aku saja sampai sekarang masih belum tau siapa dia, dan kenapa suaranya sering muncul di kepalaku.

Stop, sekarang belok kanan, jangan lari, nanti anda akan bertemu sebuah pintu maka anda akan bertemu Claire.

Claire? oke. Aku langsung dengan gaya mengendap-endap mencoba untuk menemukan pintu tersebut.
Aha! ini dia! walaupun gelap tapi tanganku bisa merasakan ada tekstur yang berbeda, berbeda dari tembok.

buka pintunya.

Buka pintunya? bagaimana bisa? kan gelap!
"Hey, bagaimana aku bisa tahu letak pintunya!"

tidak ada jawaban

Disaat begini.. kemana dia? bagaimana aku bisa... oh ada knop pintunya.
Kriiiit.. pintunya kubuka sedikit.
"Siapa disitu? Silahkan masuk!" Tibatiba ada suara misterius menyapaku.
"C-Claire? itu kau?"
"Bukan.. ini, aku, Aime" Seketika saja lampu kembali menyala bersamaan dengan kalimat itu diucapkan.

Kamis, 18 Agustus 2011

Entri #50 - Beberapa Menit Yang Lalu

Beberapa menit yang lalu...



"Latias dan Latios? Kau memiliki mereka?"

"Kau takut?"

"Tidak, aku malah merasa tertantang" Balasku mencoba untuk optimis.

Memang aku merasa tertantang, tapi aku tak begitu yakin akan menang. Ah, tidak, aku harus optimis. Aku pasti bisa melawan duo naga tersebut.

"Omong-omong, aku hanya ingin memberitahu kalau duo Pokemon naga ini kudapatkan dengan bantuan Claire" Kata Milo.

"Aku dan Claire memiliki semacam kekuatan untuk memanggil Latias dan Latios", Lanjutnya.

"Oh ya?" Balasku acuh. Dasar Milo aneh, disaat seperti ini malah bercerita.

"Sebenarnya, saat di kota Mosdeep kami berusaha untuk menangkap kau dan Claire bersamaan, namun sayang kalian bertengkar, jadi kau tak bisa tertangkap"

"Maksudmu perihal aku dan Claire dikejar Heracross di Safari Zone itu ulah kalian?"

Sabtu, 18 Juni 2011

Entri #049 - Memori yang Buram

"Baiklah, kalau begitu biarkan aku pergi menyelamatkan mereka"
"Kau.. tidak berpikir aku akan membiarkanmu begitu saja bukan?"
Aku tersenyum lebar. Kedua tanganku bersiap untuk melempar PokeBall.
Milo ikut tersenyum.

"Maju! Latias dan Latios!" Milo berteriak kencang.
Dua sosok naga berwarna merah dan biru muncul tiba-tiba. Apa? Latias dan Latios? Dua Pokemon legenda itu? Bagaimana Milo bisa mendapatkannya?
"La..tias-Latios? Kau memiliki mereka?"
"Kau takut?", Milo menaikan alis matanya.
"Tidak, aku malah sangat merasa tertantang"

Sabtu, 07 Mei 2011

Entri #048 : Dimana?

"AAPPAA!?!?"
Tubuh Milotic yang besar dan berwarna kuning lama kelamaan menciut dan berubah menjadi warna merah, lalu masuk kedalam PokeBall-ku.
"Apa yang barusan terjadi!? Kok bisa!?" Reiji berteriak penuh keheranan. Wajar memang, kalau aku adalah dia, aku juga pasti akan heran. Sangat heran.
"Seumur-umur aku hidup baru tahu ada seseorang bisa menangkap Pokemon orang lain!!" Tanya Reiji dengan keheranan, sementara itu si Aime melongo seperti ikan yang belum diberi makan.
Reiji berlari menghampiri dan merebut PokeBall yang ada ditangan kananku. Reiji seperti memeriksa PokeBall-ku, hingga diterawang segala. Memangnya PokeBall-ku uang palsu.

"PokeBall-mu tidak ada yang aneh kok.. Tapi bagaimana kau melakukan hal tadi? Apakah ini juga termasuk 'kemampuan' yang kau punya? Menangkap Pokemon lawan?" Reiji bertanya dengan muka penuh keheranan, seperti seorang anak kecil yang baru tahu kalau Vibrava adalah evolusi dari Trapinch.
"Hahahaha kau ini seperti anak kecil saja", Kataku santai.

Jumat, 15 April 2011

Entri #047 : Apatis

*Apatis : Ketidakpedulian, sikap masa bodoh

"Kau benar-benar hebat, Shed. Aku tak menyangka kau bisa menemukan ruangan ini" Puji Aime.
"Kalau aku tidak hebat, mungkin kau tak akan berusaha untuk menyingkirkanku" balasku tersenyum.
Aime membalas kembali senyumku, ditambah dengan telunjuknya yang mengarah padaku.
"Hydro Pump!" Tekanan air yang besar menghantamku, Synyster dan Reiji. Synyster dan Reiji terlihat lemas.
"Synyster, kembali ke PokeBall-mu!"
"Hahahahahaha.. Sekarang kau mati kutu, Shed. Kedua temanmu tak ada yang sadar"
"Berarti kita sekarang satu lawan satu" Kataku sembari menghampiri Reiji yang tak sadarkan diri. Aku mngecek nadinya. Oh, masih berdenyut. Berarti dia hanya pingsan.
"Satu lawan satu? Rupanya kau menantangku, ya?" Aime tertawa.
"Milotic, Hydro Pump!" Perintah dia lagi.
Jadi Pokemon yang dari tadi menyerangku adalah Milotic?

Selasa, 22 Maret 2011

Entri #046 : Terobos

"Synyster, maju!" Aku memanggil Lairon-ku.
"Kau yakin lewat sini?" Reiji mengerutkan dahinya.
"Yahh.. kita harus percaya kakakku"
Sekarang aku sedang menyusup markas Divisi dua. Aku dan Reiji, memutuskan untuk menelusuri tempat ini untuk mencari Claire, sedangkan Kakakku tetap di tempat awal kami, mengawasi Aku dan Reiji dengan komputer. Dan sekarang, kata Kakakku, sudah mendekati ruangan tempat Claire berada. Thanks to Porygon2.
"Shed, jika kau lihat, di ujung lorong ada pintu besi" Kata kakakku melalui PokeNav.
"Ya, Aku lihat."
"Pintu itu sangat kuat, dan harus dibuka secara-"
"Kenapa harus omong panjang lebar? AKu tahu cara membukanya" Aku mematikan PokeNav.
Reiji berjalan mendekati pintu tersebut.
"Sepertinya harus dibuka secara manual, tak ada gagang pintunya, atau butuh kata sandi" Katanya berbisik.
"Aku tahu kok.. Synyster, Strength!" Synyster berlari cepat kearah pintu.
Reiji kaget dan langsung melompat tinggi menghindari Synyster. Aku lupa ada Reiji di dekat pintu tersebut. Pintu tersebut langsung hancur, gepeng, seperti kaleng minuman yang telah di gencet dan menjadi lembaran logam gepeng. 
"Bodoh kau! Hampir saja tubuhku hancur!" Amuk Reiji. Aku hanya tertawa.

Rabu, 16 Maret 2011

Entri #045 : Kelebihan Manusia

"Hiaatt!!" BRAK! Aku terus mencoba untuk mendobrak tembok kaca ini. Memang sih kita sekarang sudah berada di dalam markas mereka.. Tapi kalau begini sama saja bohong!
"Shed, hentikan, kau tidak akan bisa mendobraknya" Sammon berkata dengan tenang.
Aku mengabaikan perkataan Kakakku dan terus mencoba mendobrak tembok kaca yang mengurung kita seperti di dalam sel kaca. Aku terus menendang, memukul, mendabrak dan hal lainnya agar tembok ini hancur. Tapi tidak ada yang berhasil, yang ada malah badanku yang hancur dan kecapaian.
"Shed, hentikan!" Sammon menarik tubuhku.
"Tak ada salahnya mencoba, lagi pula tidak ada jalan lain 'kan?" Kataku ngos-ngosan.
"Ada, ada jalan lain" Reiji tiba-tiba memotong.
"Oh ya?" Aku berbaring di lantai sembari mengelap keringat yang bercucuran. "Apa itu?" Lanjutku lagi setengah tak percaya.
Reiji tersenyum. Lalu dia berjalan ke tembok kaca yang dari tadi aku coba hancurkan. Reiji terlihat mengamati keadaan diluar sel kaca ini. Ruangan di luar sel tidak ada orang, karena Milo baru saja keluar, dan isinya lumayan sederhana. Hanya berisi seperangkat komputer-super canggih, meja dengan gadget-gadget gak jelas, sebuah lemari dan pintu besi.
"Kita bisa membuka ini dari luar. Dengan Pokemon" Kata Reiji.
"Ide yang bagus. Tapi sayang sekali karena POKEMON KITA 'KAN ADA DI LUAR!!" Aku berteriak emosi. Habis, kalau Pokemon kita ada disini, pasti aku sudah menggunakan Pokemonku dari tadi.

Jumat, 25 Februari 2011

Entri #044 : Tujuan dan Latar Belakang

Aku duduk di sebuah ruangan berbentuk persegi, dengan tembok dan lantai yang terbuat dari semen. Aku tak yakin apa yang sedang kulakukan disini. Satu hal yang pasti, aku tidak melihat satu pun orang di ruangan ini. Dimana aku? dan, Sedang apa aku disini?

"Jadi, Shed, apa sebenarnya tujuanmu kesini?" Terdengar suara misterius menggema di ruangan. "Ayo cepat jawab jika kau mau keluar dari sini"
"Aku.. tujuanku kesini adalah untuk mengetahui tujuan dari dibuatnya Divisi Dua dari Tim Aqua! Aku yakin pasti sesuatu yang tidak baik! Atau malah lebih buruk dari Tim Aqua yang selama ini ada di TV!" Aku mengatakan semua tujuanku. Aku sebenarnya tidak mau mengatakannya secara blak-blakan, tapi entah kenapa aku tak bisa mengontrol mulutku.

Jumat, 18 Februari 2011

Entri #043 : Menjemput Yang Hilang, Menghancurkan Yang Ada

"Sudah sadar?"
"Kak? Dimana ini?" Tanyaku lirih.
"kamar Pokemon Center. Kau yang terakhir bangun"
Aku segera mencoba untuk berdiri, namun badanku masih agak susah digerakan. Masih terasa kaku. Sepertinya ini efek dari Stun Spore tadi.
"Tate dan Liza sudah dari tadi sadar dan mereka kembali ke Gym" Kata Sammon.
"Iya, iya, lalu Claire? Bagaimana dengannya?" Sammon terdiam. Aku mengulang pertanyaanku dan dia tetap diam seakan dia tidak tahu jawabannya atau.. tidak mau memberi tahu jawabannya?

Sammon mengalihkan padangannya, mengindikasikan dia sedang berpikir. Apa yang dipikirkannya? Apakah jawabannya begitu sulit dikatakan? Dari sini aku sudah tahu bahwa pasti jawabannya tidak baik.
"Dia... hilang. Pasti ulah para Divisi dua" Kakakku menjawab dengan terbata. Sudah kuduga jawabannya akan semacam ini. Ini sudah keterlaluan. Apa yang mereka inginkan? Sungguh tidak jelas.
"Sekarang bagaimana?" Kataku menghela nafas. Kekesalanku sudah melebihi batas bahkan hingga aku sudah tidak bisa menunjukan ekspresi kesal lagi. Seperti sebuah benda yang bergerak sangat cepat sehingga kelihatannya bergerak lamban.

Kamis, 20 Januari 2011

Entri #041 : Lencana

"Synyster, kau tak apa-apa?"
Pokemon berpelindung baja itu mengangguk, mencoba bangkit dan melanjutkan pertandingan. Justice menghampiri Synyster yang sepertinya terluka parah. Jujur saja, aku sama sekali belum pernah melihat Future Sight, mungkin, itu yang membuatku lengah.
"Baiklah, Claire, kau mungkin bertambah kuat.." Kataku. Claire tersenyum.
"..Walau hanya sedikit sekali" Senyum Claire terhapus, terganti dengan cemberut dan raut wajah kesal.
"Flygon, Lugia, Seraaang!!!!" Claire memerintah dengan nada kesal. 
Flygon dan Lugia.. atau.. ehm.. Xatu, melesat dengan kecepatan penuh. Seperti mau melakukan semacam Quick Attack tapi lebih kuat.
Ini dia yang kuharapkan.
"Syn! Protect!" Synyster membentuk medan energi yang melindunginya dari serangan kedua Pokemon tersebut. Kedua Pokemon tersebut menabrak medan energy yang dibuat Synyster, terpental dan terjatuh secara bersamaan ke tanah.

Minggu, 19 Desember 2010

Entri #039 : Terikat

Secangkir teh lumayan menghangatkan malam ini. Secara teknis malam ini memang tetap sama dengan apa yang sudah kulalui selama kurang lebih 3 bulan ini; tidur di penginapan Pokemon Center. Namun yang membuat malam ini terasa beda adalah kehadiran kakakku dan Wallace. Ya, setelah kejadian di Gedung Antariksa tadi sore, kita semua memutuskan untuk menghabiskan hari ini di Pokemon Center.

Seharian duduk santai di kafetaria Pokemon Center kota Mosdeep setelah kejadian yang hampir membunuhku tadi memang terasa sangat enak. Ahhh sudah lama tidak sesantai ini.
"Dimana Claire?" Tiba-tiba saja kakakku sudah duduk di sampingku. Bikin kaget saja.
"Tadi katanya ada janji dengan Tate dan Liza. Enggak tau persis sih janji apaan"
"Sudah bicara dengannya?"
"Sudah."
"Apa katanya? Dia tahu tentang semua ini? beritahu aku"
Wallace juga datang menghampiri, mau ikutan mendengarkan ceritaku.

Senin, 13 Desember 2010

Entri #038 : Musuh Dalam Selimut

"Tak kusangka kita bisa berada di tempat yang sama lagi dalam jangka  waktu sekitar 2 hari saja" Kata Milo dengan perlahan melangkah mendekatiku dan Wallace, yang secara otomatis, aku dan Wallace juga ikut mundur. Milo terlihat begitu mengancam dengan seekor Pokemon tinggi berwarna putih di sampingnya. Belum lagi Milo dengan sukses melukai anggota sendiri sampai tidak sadar. Kalau tak salah, itu Pokemon dari daerah Sinnoh yang bernama Gallade. Tentu saja, Milo 'kan memiliki Kirlia.

Milo mengentikan langkahnya. Mungkin, karena sekarang kita sedang berada di sebuah lorong. Dengan satu-satunya jalan keluar yang berada di belakang Milo. Sedang ruangan yang kita interogasi tadi, tak lain tak bukan hanyalah sebuah gudang kecil berisi barang-barang tak terpakai. Kita bisa saja bersembunyi di gudang itu, namun, apa yang akan kita lakukan disitu?

Wallace menyuruhku untuk jangan melawan. Karena, kita tidak mungkin bisa berbuat apa-apa. Salah-salah dikit Milo bisa saja memanggil grunt-grunt-nya dan menyerang kami.
"Shed, aku ada ide" Bisik Wallace.
Aku menaikan alis kananku. "Kau alihkan perhatiannya, aku akan minta bantuan melalui PokeGear" Lanjut Wallace yang perlahan memasukan tangan ke kantongnya.
"aku  mengalihkan perhatian? apa maksudmu? bagaimana caranya?"
"Ya.. ajak ngobrol gitu atau ajak main futsal bareng, ya aku tidak tahu! yang penting perhatiannya teralih! jangan sampai dia tahu aku mau memanggil bala bantuan!" Wallace malah sewot.

Mengalihkan perhatian? okelah kalau begitu. Aku ajak bicara saja.
"Sudah selesai gosipnya?" Milo malah yang memulai pembicaraan.
"Sudah. Kenapa? kau iri karena tidak punya teman untuk ngobrol ya?" Balasku.
Milo terkekeh. "Oh ya? Aku kira kita teman baik"
"Kita dulu memang teman. Tidak setelah kau berubah menjadi..

Sabtu, 20 November 2010

Entri #037 : Grunt

Sunyi, gelap dan berantakan. Itulah yang aku lihat saat ini. Ya, kita benar-benar melakukan apa yang Wallace katakan beberapa menit yang lalu. Kita sekarang sedang menginvestigasi gedung ini.

"Jackpot" Wallace berbisik. Wallace menghentikan langkahnya, begitu juga aku.
"Ada apa?"
"Di depan situ" Wallace menunjuk ke sebuah ruangan yang pintunya terbuka.

"Hah? Aku tidak melihat apa-apa" Kita memang tidak menggunakan senter atau alat penerang lainnya, karena, kata Wallace menggunakan alat penerang malah membuat kita mencolok sendiri ditengah kegelapan, sehingga membuat kita sulit untuk menginvestigasi.


"Ada seseorang disitu, dengar baik-baik" Kata Wallace lagi.
"I.. iya juga" Aku mulai menyadari begitu aku mendengar suara langkah kaki dan juga pergerakan-pergerakan.
"Terkadang, untuk melihat sesuatu menggunakan mata saja tidak cukup"


Wallace mulai bergerak maju menuju ruangan tersebut. Dengan gaya mengendap-endap a la Ninja tentunya--Yang juga aku ikutan.

Kami pun mulai mencoba memasuki ruangan tersebut, dengan berniat untuk mengetahui siapa orang tersebut.

Perlahan kita mulai mendekati pintu..

semakin dekat..

semakin dekat..


Sabtu, 30 Oktober 2010

Entri #036 : Mitra

"Bagaimana Shed? Masih belum menyerah?" Kata Tate dengan nada sombong.
"Belum! Poseidon, Bubblebeam!"
"Balas dengan Solar Beam!" Sinar surya milik Solrock tak disangka lebih kuat dari Bubble beam Poseidon! Pokemon bintang laut tersebut pun terkena Solar Beam secara telak.
"Hahahaha! Menyerah saja Shed! Pokemon-mu yang tersisa hanya tinggal Staryu dan Bagon!" Kata Liza dengan nada mengejek.
"Huh, ini belum berakhir! Justice, Drago-"
DUAAARR!!
Tiba-tiba ada ledakan besar disusul oleh gempa kecil. Ledakan tersebut sepertinya terjadi di tempat yang lumayan dekat dari gedung Gym ini. Bisa dirasakan melalui besar suaranya.
Seisi ruangan langsung diam.

"Shed? Kau merasakannya?" Tanya Claire dengan nada ketakutan.
"Kita semua merasakannya" Sambung Tate (sepertinya aku sudah mulai bisa membedakan).
"Sepertinya sebuah ledakan".
"Sepertinya ada baiknya jika kita mengecek apa yang terjadi di luar" Kata Claire.
Akhirnya kita semua memutuskan untuk menghentikan pertarungan kita dan mengecek keadaan diluar.
Dan benar saja, diluar banyak orang berlarian. Lalu ada segrombolan berkumpul di sebuah gedung tinggi yang letaknya sedikit agak jauh dari Gym.
"Itu.. Gedung Pusat Antariksa kota Mosdeep" Liza berkata dengan nada miris.
Seperti pepatah ada gula ada semut, kami pun kesana.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Entri #035 : Filler

"Oke, Poseidon, habisi dengan Bubblebeam!" Pokemon bintang laut tersebut pun berhasil menjatuhkan lawan, yg anehnya, bertipe listrik. Agak tidak masuk akal bukan? Seharusnya Pokemon listrik bisa menang melawan Pokemon air.
"Wah, pertandingan yang hebat. Staryu-mu keren"
"Hahaha, Manectric-mu juga kuat kok" Aku mencoba rendah hati, dan menghibur lawanku.

Kapal ferry yang menuju ke kota Mosdeep ini, memang berisi para pelatih yang kuat-kuat. Pelatih dari berbagai macam daerah berkumpul. Kemampuan mereka juga berbeda-beda. Tapi, seperti apapun, semua yang ada disini kuat. Pantas saja aku bisa naik. hehehe..
"Hey, Shed! Sebelah sini!" Terdengar suara Claire diantara lautan manusia di kapal ini.
Ya, kapal ini memang ramai, karena kota Mosdeep itu sendiri merupakan Gym ke 6, yang berarti sudah dekat ke Liga. Makanya ramai oleh pelatih-pelatih kuat.
"Shed! disini!" Teriak Claire lagi.
Ternyata Claire sedang duduk di sebuah kafe. Aku pun datang menghampirinya.

"Perhatian para penumpang, sebentar lagi kita akan sampai di pelabuhan kota Mosdeep" Terdengar suara pengumuman. Mosdeep sudah di depan mata, itu berarti, Gym selanjutnya!

Selasa, 28 September 2010

Entri #034 : Sudut Pandang Claire

*Episode ini menggunakan prespektif Claire.

Aku tidak percaya atas semua hal yang baru saja terjadi. Aku tidak percaya Shed bisa dengan gampang menuduhku seperti itu. Padahal, semua yang kukatakan benar. Hhh.. Yasudahlah, mungkin aku dan Shed memang seperti kutub magnet yang sama. Kutub magnet yang sama jika di dekatkan akan menimbulkan gaya dorong. Mungkin, seperti itulah aku dan Shed.

Setelah dari dapartement Store,  aku langsung hilang arah. Tidak tahu mau jalan kemana. Selama ini aku hanya mengekor Shed, jadi... Kalau Shed tidak ada aku mau kemana ya?

Setelah mengitari kota Lilycove, aku memutuskan untuk mencari Shed. Kalau dipikir-pikir.. aku merasa bersalah juga. Tapi.. Aku sudah mengitari kota ini dan... aku tidak melihat batang hidung Shed. Kemana perginya? Apa dia langsung minggat dari kota ini setelah kejadian tadi? Ah, rasanya tidak mungkin. Shed tidak mungkin setega itu padaku.
"Apa yang dilakukan perempuan manis seperti mu di tengah kota seperti ini?" Tiba-tiba saja terdengar suara di belakangku. Aku menoleh kebelakang. dan terlihat muka yang sangat familiar. Bukan Shed. Tapi.. Milo.
"Mana pacarmu?" Tanya si Milo lagi.
"M.. MILO!? Apa yang kau lakukan disini!?"
Milo tersebut diam. Mengerutkan dahi.
"Apakah aku mengenalmu?" Tanya Milo.
"Hahahaha.. Jadi sudah meninggalkanku begitu saja, lalu pura-pura lupa sama adik kembar sendiri" Candaku.
Dahi Milo semakin mengerut, dan berjalan selangkah mendekatiku.
"Pertama kau bilang namaku Milo, lalu bilang aku meninggalkanmu. Apakah kita pernah kenal? Aku saja tak tahu siapa dirimu" Jawabnya lagi.
Dilihat dari ekspresi mukanya, dia seperti benar-benar tidak tahu. Ekspresi-Tidak-tahu yang sama seperti Milo yang biasa aku temui. Yang berarti.. Ucapan dia yang tadi itu serius.. Itu artinya, dia bukan Milo.
Tapi aku sangat yakin itu Milo! Mulai dari suara, fisik sampai ekspresinya. Walaupun Milo yang ini memiliki rambut yang lebih gondrong, Aku tetap yakin kalau itu Milo! Tidak mungkin aku lupa dengan orang yang lahir 15 menit lebih dulu dariku! Tidak mungkin aku lupa pada orang yang telah meninggalkanku!
"Milo? Kau.. bukan Milo?" Tanyaku dengan terbata.
"Milo? Hahaha namaku Lar"
"Lar?" Nama yang unik.
"Oke.... Lar, kau siapa dan sedang apa disini" Tanyaku lagi. Aku sudah mulai bingung. Pertama, dia bukan Milo padahal aku tahu dia itu Milo, Kedua, Kalau dia bukan Milo kenapa dia menyapaku?

Senin, 06 September 2010

Entri #033 : Kota Lilycove

"Jadi kau kalah dalam Kontes Pokemon tadi?"
"Iya, entah kenapa Pokemon-ku tidak mau bergerak saat kusuruh tadi" Jawab Claire.
Setelah kekecewaan kami di Safari Zone tadi, Claire memutuskan untuk berbelanja di department store kota Lilycove. Kata Claire, belanja bisa menenangkan pikiran. Oh ya? Padahal dengan belanja uang kita akan terkuras yang berarti.. tambah stress karena gak ada uang.
"Shed, lebih baik Full Restore atau Hyper Potion?"
"Terserah kau" Claire mengambil satu Hyper Potion dari rak penjualannya.
"Jadi Claire, Heracross tadi benar-benar menyerangmu duluan?"
"Tentu saja. Bukannya kau bilang kau percaya?" Balas Claire sewot.
"Ya.. habis jika dipikir-pikir.. kau 'kan agak ceroboh orangnya. Jadi.."
"Kau menuduhku berbohong?"
Dari sini perselisihan mulai terjadi. Habis aku agak bingung juga. Tak mungkin Heracross itu menyerang duluan, apalagi sampai bergerombol.
"Yasudahlah, lagipula Heracross tersebut menyerang atau tidak, tidak mengubah apa-apa kan?"
"'Yasudahlah'!? Aku kehilangan Heracross, Pikachu dan Rhyhorn kau bilang 'Yasudahlah'!?"
Keadaan semakin panas.
"Oke, kalau kau tak mau denganku lagi pergi saja!" Claire semakin menaikan nada suaranya.
"Siapa bilang aku mau denganmu!? Aku memang sudah malas dari dulu! Aku akan ke kota Mosdeep sendiri!"
Dengan emosi yang memuncak, aku pun meninggalkan Claire di department store. Aku pun menuju pantai Lilycove.

"